Kampung Swastika Buana

Kecamatan Seputih Banyak
Kabupaten Lampung Tengah - Lampung

Artikel

Kesederhanaan perayaan hari Raya Kuningan di Kampung Swastika Buana

I WAYAN EDI CANDRA

21 24-0 05:40:54

438 Kali Dibaca

Sabtu, 24 april 2021

Reporter : Ketut Suparsih

Hari raya Kuningan adalah hari raya yang dirayakan umat Hindu Dharma di Bali. Perayaan ini jatuh pada hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, wuku Kuningan. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari). Sepuluh hari setelah hari raya Galungan.
Sabtu pagi terlihat Umat sedarma melaksanakan persembahyangan dalam rangkaian Hari Raya Kuningan di Pura Tri Kayangan kampung Swastika Buana yang dalam hal ini persembahyangan di pimpin oleh 4 orang Pemangku yakni Jero Mangku Dalem Made Rake, Jero Mangku Bale Agung Made Sutame, Jero mangku Puseh Nyoman Suwite, dan Jero Mangku Pensucian Wayan Gede S. 
Pada kesempatan tersebut juga di hadiri oleh bapak Kepala Kampung Made Rimbawa Putra.SE sekertaris Kampung I Wayan Edi Candra.S.Pd.MM, aparatur pemerintah Kampung Swastika Buana, Ketua Adat Kampung Made Suwirte.S.Pd, tokoh Kampung Komang Panca Darma.S.Kep.Ns dan Masyarakat kampung Swastika Buana, nampak sangat sederhana perayaan hari raya Kuningan di tahun ini,hal ini terjadi karena team gugus tugas kampung Swastika Buana melakukan pembatasan guna mencegah penyebaran Covid-19
Ujar Kepala Kampung Swastika Buana sekali Gus ketua Gugus Tugas Covid-19 Bapak Made Rimbawa Putra.SE
Dalam rangkaian acara Kuningan tersebut tokoh muda Kampung Swastika Buana  Komang Panca Darma Berpesan kepada Seluruh Warga yang Hadir agar selalu dapat melaksanakan prokes untuk mencegah penularan Covid-19 dengan cara. 
1. Mencuci Tangan dengan sabun di air mengalir.
2. Memakai masker 
3. Menjaga Jarak 
4. Tidak berkumpul tanpa ada kegiatan yang tidak penting.
Hari raya Kuningan adalah hari raya yang dirayakan umat Hindu Dharma di Bali. Perayaan ini jatuh pada hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, wuku Kuningan. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari). Sepuluh hari setelah hari raya Galungan.

Selain itu beliau menyampaikan perayaan hari Raya Kuningan ini merupakan Hari Raya Kuningan merupakan hari yang merayakan kemenangan dharma melawan adharma, dalam bahasa lebih mudah dicerna, ini adalah hari dimana umat Hindu merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Umat Hindu sendiri kemudian membuat perayaan besar dan pemujaan yang ditujukan pada para dewa, untuk berterimakasih atas kemenangan tersebut,
Beranda / Artikel / Hari Raya Galungan dan Kuningan
Hari Raya Galungan dan Kuningan

Hari raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Perayaan Hari Raya Galungan identik dengan penjor yang dipasang di tepi jalan, menghiasi jalan raya yang bernuansa alami. Di jaman modern ini, apalagi sebagai tujuan pariwisata, pulau Bali kerap disorot sebagai pulau yang indah sekaligus religius. (Penjor adalah bambu yang dihias sedemikian rupa sesuai tradisi masyarakat Bali setempat).

Adapula Hari Raya Galungan ialah hari dimana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta jagad raya beserta seluruh isinya. Serta merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma). Sebagai ucapan syukur, umat Hindu memberi dan melakukan persembahan pada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara (dengan segala manifestasinya). Penjor yang terpasang di tepi jalan (setiap rumah) sendiri merupakan aturan ke hadapan Bhatara Mahadewa.

Arti kata Galungan

Diambil dari bahasa Jawa Kuna yang berarti bertarung. Biasa disebut juga “dungulan” yang artinya menang. Perbedaan penyebutan Wuku Galungan (di Jawa) dengan Wuku Dungulan (di Bali) adalah sama artinya, yakni wuku yang kesebelas.

Kapan Galungan dirayakan pertama kali

Asal usul Hari Raya Galungan memang sulit dipastikan kapan tepatnya pertama kali diadakan, oleh siapa dan dimana. Namun menurut Drs. I Gusti Agung Gede Putra selaku mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI mempekirakan Hari Raya Galungan sudah dalam dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia sebelum populer di Pulau Bali. Tapi menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Lontar tersebut berbunyi: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” Artinya: “Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.” Lontar sendiri bisa disebut ibarat pustaka suci (yang disucikan) / kitab pedoman dan disimpan oleh umat Hindu.

Galungan dan Kuningan dirayakan sebanyak dua kali dalam setahun kalender Masehi (kalender yang biasa kita pakai). Jarak antara Galungan dan Kuningan sendiri ialah 10 hari. Perhitungan perayaan kedua hari raya tersebut berdasarkan kalender Bali.Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan.Umat Hindu di kampung Swastika Buana merayakan Galungan dengan bersembahyang di Pura Tri Kayangan kampung Swastika Buana.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran. Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma. Bisa disimpulkan bahwa inti Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia.

Kesimpulannya, hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Pada hari Jumat Wage Kuningan yang juga disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama sebenarnya tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah pikiran yang buruk/kotor). Keesokan harinya yakni Sabtu Kliwon atau disebut Kuningan, dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari. Serta menghindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Rangkaian Hari Raya Galungan

Tumpek Wariga

Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga disebut Tumpek Wariga, atau Tumpek Bubuh, atau Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah jatuh 25 hari sebelum Galungan.  Pada hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan. Adapun tradisi masyarakat untuk merayakannya adalahh dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa Bubuh (bubur) Sumsum yang berwarna seperti:

a.       Bubuh putih untuk umbi-umbian

b.       Bubuh bang untuk padang-padangan

c.       Bubuh gadang untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara generatif

d.       Bubuh kuning untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara vegetatif

Pada hari Tumpek Wariga ini semua pepohonan akan disirati tirta wangsuhpada/air suci yang dimohonkan di sebuah Pura/Merajan dan diberi banten berupa bubuh tadi disertai canang pesucian, sesayut tanem tuwuh dan diisi sasat. Setelah selesai kemudian pemilik pohon akan menggetok atau mengelus batang pohon sambil berucap sendiri (bermonolog):

“Dadong- Dadong I Pekak anak kija 

I Pekak ye gelem

I Pekak gelem apa dong?

I Pekak gelem nged

Nged, nged, nged”

Dialog di atas bermakna harapan si pemilik pohon agar nantinya pohon yang diupacarai dapat segera berbuah/menghasilkan, sehingga dapat digunakan untuk upacara hari raya Galungan. Peringatan hari ini merupakan wujud Cinta Kasih manusia terhadap tumbuh-tumbuhan.
Selamat Hari raya Kuningan dumogi kepaice kerahayaun lan kepanggihin kemargian Dane antar Reng sejeroning umat

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Kampung

Kepala Desa

MADE RIMBAWA PUTRA, S.E

Sekertaris Kampung

I WAYAN EDI CANDRA.SP.D.MM

Kasi Pemerintahan

PUTU SUWARATNYANA, SE

Kasi Kesejahteraan

NENGAH SUKARTA A.Md

Kasi Pelayanan

I NYOMAN TRIAWAN ANGGRIANA

Kaur Keuangan

I GEDE SASTRAWAN A.MD

Kaur Umum dan Perencanaan

KOMANG ADI WIDIYANTA S.Kom

Kepala Dusun Eka Sari

KT. SADA

Kepala Dusun Merta Sari

WAYAN ARNATA

Kepala Dusun Sumber Sari

NENGAH SUARDANA

Kepala Dusun Wana Sari

WAYAN KAJI

Kordinator Team Smart Village

KETUT SUPARSIH

Operator Team Smart Village

KADEK WAHYU FERNANDA

Operator Kampung

WAYAN SUTARMI

Staff Kampung

JUMIATI

Operator Team Smart Village

I MADE ARNAWAN

Office Boy

KETUT SUTAMA

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Kampung Swastika Buana

Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah, 18

Komentar

Anak Perantauan

23 November 2024 04:21:13

Manyala Kampung halamanku.... tetap jaga kebaikan ...

Maju Terus Kampung Swastika Buana

22 November 2024 17:46:52

teruslah berbenah untu kemajuan kampung swastika buana...

Ketut Astawa

27 Oktober 2024 08:50:03

maju terus Swastika buana...

Made Swartane

27 Oktober 2024 08:45:17

Baik...

Anonymous

22 Agustus 2024 05:57:37

Semangat Seputih Banyak ...

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:216
Kemarin:459
Total:401,366
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:18.119.120.88
Browser:Mozilla 5.0

Jam Kerja

Hari Mulai Selesai
Senin 08:00:00 16:00:00
Selasa 08:00:00 16:00:00
Rabu 08:00:00 23:00:00
Kamis 08:00:00 16:00:00
Jumat 08:00:00 00:00:00
Sabtu Libur
Minggu Libur

Transparansi Anggaran

APBK 2025 Pelaksanaan

APBK 2025 Pendapatan

APBK 2025 Pembelanjaan

Lokasi Kantor Kampung

Latitude:
Longitude:

Kampung Swastika Buana, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah - 18

Buka Peta

Wilayah Kampung